![]() |
| Aku dan sahabatku bersama Asuransi AIA Sakinah Assurance – Doc: Pribadi |
Minggu lalu saya sempat membuka “buku besar journal kehidupan”, yang saya tulis dalam catatan akhir tahun 2014 lalu. (Yep, saya dan suami memang punya kebiasaan rutin tahunan untuk mencatat resolusi dan hambatan serta pencapaian target dalam hidup di buku besar itu). Disana tertulis bahwa saya akan ke Jepang bersama rombongan (teman-teman) di tahun 2016. Tapi gak disebutkan juga sih siapa teman-teman saya itu. Pokoknya tahun 2016 saya ke Jepang, titik.
Tidak salah kok akan hal diatas, selama kamu dan keluarga masih bisa bekerja secara produktif, insyaallah bisa membayar biaya rumah sakit. Nah sekarang saya minta waktu kamu 1 menit saja, bayangkan kalau sekarang umur kamu 55 tahun, kamu saat ini sudah pensiun dan tidak bekerja, kamu sudah saving uang yang kamu kumpulkan selama bekerja untuk diri kamu, anak dan keluarga. Bayangkan kembali kalau kamu sedang berada di rumah sakit, sekarang kamu sedang berada dalam ruangan, bukan sebagai penjenguk, tapi sebagai pasien. Kamu saat ini sedang berada didalam ruangan, sendirian, sekarang kamu sedang tiduran ditempat tidur sambil melihat ke langit-langit ruangan yang berwarna putih, sesekali melihat lampu yang terang di pojok ruangan, kamu sedang berfikir berapa biaya yang harus dikeluarkan selama dirumah sakit, kamu terus berhitung dan berhitung dan sesekali melihat saldo tabungan melalui smartphone yang selalu ada di genggaman kamu trus membuka aplikasi calculator untuk membuat perhitungan kasar mengenai biaya rumah sakit. Sekarang …. pejamkan mata kamu dan bayangkan cerita saya diatas dan bayangkan kamu yang mengalami hal itu. Setelah selesai, coba buka mata kamu.
Saya yakin, dalam pikiran kamu sekarang, kamu berfikir bagaimana kamu bisa membayar biaya rumah sakit dari tabungan kamu tanpa memberatkan keluarga dan anak kamu kan? ….. Pikiran kamu akan berfikir seperti itu dan akhirnya bisa jadi kamu depresi hanya karena memikirkan biaya rumah sakit. Sekarang pertanyaannya “Apa ada cara agar kamu tidak perlu memikirkan biaya rumah sakit dan yang terpenting tidak memberatkan keluarga, apalagi anak kamu?“
Sahabat kita semua
Seperti yang saya bilang diatas, apakah ada sahabat yang bisa membuat kita merasa tenang, optimal, tenteram dan bahagia sampai kapan pun, bahkan bisa membuat kamu tidak depresi memikirkan biaya rumah sakit? Ada dong, sahabat yang akan selalu ada untuk kamu baik itu dikala sakit dan bahagia, sahabat itu bernama asuransi. Saya yakin beberapa dari kamu akan bilang “Asuransi, wah oline mau nawarin asuransi nih?“, jujur saja, saya pribadi waktu dulu masih kerja kantoran dan ada teman kantor yang membicarakan soal asuransi langsung berfikiran negatif, pikirannya langsung “Wah nawarin asuransi nih“, tapi kalau kamu sudah berumur seperti saya (hm… bukan berarti saya sudah tua loh, cuma sudah tidak muda lagi hihihi), kamu sudah berkeluarga, kamu sudah bisa mewujudkan impian-impian kamu seperti mobil, rumah, liburan, kamu akan berfikiran tentang 1 menit diatas, percaya deh 🙂
Makin berumur, saya jadi makin sadar bahwa selalu ada resiko yang membuat hidup saya yang produktif menjadi tidak produktif, karena itu selama saya masih produktif saya ingin memiliki proteksi agar hidup saya bisa lebih terjamin, terjamin dalam artian bahwa saat sakit saya tidak perlu memikirkan biaya rumah sakit, saya bisa mewujudkan mimpi-mimpi saya.
Dari hasil Survei Nasional Literasi Keuangan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2013 bahwa :
– Baru sekitar 17.8% orang Indonesia yang mengerti Asuransi atau bisa dibilang hanya ada 18 dari 100 penduduk Indonesia loh, atau bisa dikatakan cuma 2 dari 10 orang yang mengerti manfaat asuransi.
– Baru sekitar 11.8% orang Indonesia yang terproteksi asuransi atau bisa dibilang ada 12 dari 100 orang yang sudah menggunakan asuransi atau bisa dibilang 1 dari 10 orang terproteksi oleh asuransi
Gimana fakta diatas, menarik kan, tau alasannya kenapa hanya 11.8% yang sudah terproteksi asuransi? Itu karena mayoritas penduduk Indonesia adalah muslim (termasuk saya), karena konsep asuransi itu tidak sesuai dengan konsep Islam, dimana uang premi di manage oleh perusahaan asuransi lalu dari uang itulah kita bisa mendapatkan manfaat, dan niatannya karena komersil semata.
Memilih produk asuransi, sama seperti saya memilih sahabat, saya harus yakin dan percaya bahwa sahabat saya selalu ada untuk saya, kapan pun dan dimana pun, namun yang terpenting tidak bertentangan dengan prinsip Islam, karena itu saya mencari sahabat yang menggunakan konsep syariah, dimana uang disebut sebagai Tabarru’ dimana niatannya untuk mengharap ridho Allah SWT.
Faktanya lagi, tidak semua umat muslim mengerti konsep Tabarru’ loh, buat kamu yang belum tahu, Tabarru’ itu memiliki sifat :
1. Transaksinya tidak mengharap keuntungan
2. Tujuan dari transaksinya adalah tolong menolong sesama dan tidak ada keuntungan komersil
3. Yang terpenting, pihak yang berbuat kebaikan, boleh meminta bagiannya untuk menutupi biaya saat melakukan akad tabarru’, namun dia tidak boleh mengambil laba dari akad tabarru’ itu
“Memilih” Sahabat
Memilih asuransi, sama seperti saya memilih sahabat, seperti yang sudah saya sampaikan diatas, saya memilih sahabat yang membuat saya :
1. Tenang
Mengelola asuransi yang sesuai dengan prinsip syariah yaitu saling tolong menolong, sehingga bisa saling melindungi dan menanggung resiko sesama peserta asuransi syariah
2. Optimal
Kita bisa mengelola keuangan kita secara syariah dengan berbagai macam perencanaan keuangan
3. Tentram
Memberikan kenyamanan dan ketenangan bagi peserta asuransi syariah, sesuai dengan proteksi yang diinginkan
4. Bahagia
Setiap peserta mempunyai kesempatan atas pembagian suplus underwriting setiap tahunnya, sehingga bisa mewujudkan impian-impiannya
Dari 4 kriteria diatas, saya memilih Asuransi AIA Sakinah Assurance, karena menurut saya dia adalah “sahabat” yang bisa membuat kamu optimal serta memberikan perasaan tenang, tenteram dan bisa mewujudkan impian bahagia kamu 🙂
kita memang sering overtaken by events ya mba…sibuuuk banget dengan ini itu sampai lupa dengan beberapa hal penting. Untung masih ingat dan know when to pause..semoga targetnya tercapai tahun ini 🙂
Aku termasuk oran yang dulu sinis akan asuransi, karena tak mengerti konsepnya. Sungguh sesuatu yang dimulai dengan negatif thinking berujung "gelap". Sibuk membangun dinding apatis.
Untung cepat sadar.
Kini sudah memasuki tahun ke-7 persahabatanku.
Betul, tenang dan bahagia mulai kugapai.
aku masih berasuransi mba…jaga2 takut napa2 dikemudian hari :")